Oleh: Ahmad Mubassir
Anggota Maha Santri PP Mambaul Ulum Bata - Bata
__________________________________
Kalau kita mendengar kata “santri”, mungkin yang langsung terbayang adalah orang yang belajar di pesantren, memakai sarung, belajar kitab kuning, mengaji, dan menjalani kehidupan yang cukup sederhana. Tapi kalau kita melihat perkembangan zaman sekarang, sebenarnya peran santri tidak cukup hanya berhenti di lingkungan pesantren. Santri juga punya tanggung jawab untuk ikut mengambil bagian dalam perjalanan bangsa, apalagi dalam menyambut Indonesia Emas 2045.
Membicarakan Indonesia Emas 2045 tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia. Jauh sebelum Indonesia merdeka, para santri dan ulama sudah ikut mengambil bagian dalam melawan penjajahan. Mereka tidak hanya duduk di pesantren dan belajar kitab, tetapi juga ikut membangun kesadaran masyarakat untuk mempertahankan agama, harga diri, dan tanah air. Semangat perjuangan tersebut seharusnya tidak berhenti setelah Indonesia merdeka, tetapi perlu dihidupkan kembali sesuai dengan tantangan zaman sekarang.
Sejarah mencatat bahwa pesantren menjadi salah satu tempat penting dalam membangun semangat perlawanan terhadap penjajahan. Para kiai dan santri menyebarkan pendidikan sekaligus menanamkan keberanian, kemandirian, dan kecintaan terhadap tanah air. Salah satu contoh yang sangat dikenal adalah perjuangan KH Hasyim Asy'ari bersama para ulama dan santri. Semangat tersebut kemudian terlihat jelas dalam Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 yang mendorong umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa ini menunjukkan bahwa santri sejak dahulu bukan kelompok yang hanya berkutat pada persoalan keagamaan, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap persoalan bangsa.
Indonesia Emas 2045 bukan hanya soal negara yang maju secara ekonomi atau punya teknologi yang canggih. Lebih dari itu, Indonesia membutuhkan generasi yang punya ilmu, karakter, moral, dan kepedulian terhadap masyarakat. Di sinilah santri memiliki posisi yang cukup penting. Santri selama ini tidak hanya diajarkan ilmu agama, tetapi juga nilai tentang kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, kesederhanaan, dan menghargai orang lain. Nilai-nilai tersebut sebenarnya sangat dibutuhkan untuk membangun Indonesia ke depan.
Namun, Kalau dulu perjuangan santri menghadapi penjajahan secara langsung, hari ini bentuk perjuangannya tentu berbeda. Santri tidak lagi harus mengangkat senjata untuk melawan penjajah. Tantangan yang dihadapi sekarang justru lebih beragam, seperti kemiskinan, rendahnya literasi, penyalahgunaan teknologi, hoaks, pengangguran, ketimpangan ekonomi, hingga krisis moral di tengah masyarakat. tantangan santri hari ini juga semakin besar, perkembangan teknologi dan media sosial membuat informasi bisa datang dari mana saja. Santri tidak boleh hanya menjadi penonton. Santri harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai keislamannya. Misalnya, santri bisa memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan konten positif, membuat edukasi keagamaan yang menarik, mengembangkan bisnis melalui teknologi, atau bahkan terlibat dalam bidang ekonomi, politik, pendidikan, dan sosial.
Revitalisasi peran santri berarti menghidupkan kembali semangat santri agar tidak hanya pintar dalam urusan agama, tetapi juga memiliki kemampuan di berbagai bidang. Santri perlu didorong untuk belajar teknologi, kewirausahaan, literasi digital, ekonomi, komunikasi, bahkan ilmu pengetahuan modern. Dengan begitu, santri tidak hanya menjadi orang yang memahami persoalan keagamaan, tetapi juga mampu menawarkan solusi terhadap persoalan masyarakat.
Indonesia Emas 2045 masih membutuhkan waktu, tetapi persiapannya harus dimulai dari sekarang. Santri yang hari ini masih duduk di bangku pesantren nantinya akan menjadi guru, pengusaha, akademisi, birokrat, aktivis, ulama, profesional, dan berbagai profesi lainnya. Karena itu, santri harus berani keluar dari pola pikir bahwa pesantren hanya tempat belajar agama. Pesantren juga bisa menjadi tempat lahirnya generasi yang mampu menjawab tantangan zaman.
Pada akhirnya, Indonesia Emas 2045 bukan hanya tugas pemerintah atau kelompok tertentu. Santri juga punya bagian di dalamnya. Dengan memadukan nilai keislaman, ilmu pengetahuan, teknologi, dan semangat pengabdian, santri bisa menjadi salah satu kekuatan penting dalam membangun Indonesia yang maju, berkarakter, dan tetap memiliki nilai kemanusiaan.