Memahami tata bahasa Arab ilmu nahwu merupakan kunci utama untuk membuka cakrawala keilmuan Islam, khususnya dalam memahami Al-Qur'an, Hadis, dan literatur klasik. Dalam tradisi pesantren dan pesantren modern, penguasaan ilmu nahwu berjenjang secara berkesinambungan. Salah satu bab terpenting yang menjadi fondasi dalam kajian sintaksis Arab adalah Marfu'at al-Asma' (isim-isim yang dibaca rafa').
Setelah menyelesaikan kitab dasar seperti Matan Al-Ajurrumiyyah, para penuntut ilmu biasanya melanjutkan kajian ke kitab Mutammimah Al-Ajurrumiyyah karya Syekh Muhammad Ar-Ra'ini (Al-Hattab). Kitab ini dirancang untuk menyempurnakan dan memperdalam kaidah-kaidah yang telah dipelajari sebelumnya. Pembahasan mengenai Marfu'at al-Asma' dalam Mutammimah disajikan dengan analisis yang lebih mendalam, sistematis, dan kaya akan syarat tata bahasa.
Secara terminologi, rafa' merupakan salah satu status grammatical (i'rab) yang menunjukkan kedudukan utama suatu kata dalam kalimat. Isim yang berada dalam kondisi rafa' biasanya berfungsi sebagai subjek, predikat, atau elemen inti dari struktur pembentuk kalimat. Tanda utama dari status rafa' adalah dhammah, namun dalam kondisi tertentu dapat digantikan oleh alif, wawu, atau nun pada fi'il.
Dalam kitab Mutammimah Al-Ajurrumiyyah, Syekh Al-Hattab mengelompokkan kedudukan isim-isim yang wajib dibaca rafa' menjadi tujuh kategori utama. Ketujuh kategori tersebut meliputi al-fa'il, na'ibul fa'il, al-mubtada', al-khabar, isim kaana (dan saudara-saudaranya), khabar inna (dan saudara-saudaranya), serta at-tawabi' lil marfu'. Masing-masing kategori memiliki peran sintaksis tersendiri yang sangat presisi.
Kategori pertama yang dibahas adalah al-fa'il (pelaku/subjek). Fa'il didefinisikan sebagai isim marfu' yang terletak setelah fi'il ma'lum (kata kerja aktif) dan menunjukkan pihak yang melakukan perbuatan atau yang dicirikan oleh perbuatan tersebut. Syekh Al-Hattab menegaskan bahwa urutan sintaksis fi'il sebelum fa'il adalah hukum asal yang tidak boleh dibalik.
Sebagai contoh penerapan fa'il, perhatikan kalimat Jฤ'a Zaidun (ุฌูุงุกู ุฒูููุฏู) yang berarti "Zaid telah datang". Kata Zaidun berkedudukan sebagai fa'il karena terletak setelah kata kerja aktif jฤ'a, sehingga ia dibaca rafa' dengan tanda dhammah di akhir katanya. Jika bentuknya berupa isim muthanna (dua), maka tandanya berubah menjadi alif, seperti pada kalimat Jฤ'a az-zaidฤni (ุฌูุงุกู ุงูุฒููููุฏูุงูู).
Kategori kedua adalah na'ibul fa'il (subjek pengganti atau al-maf'ul alladzi lam yusamma fa'iluh). Kedudukan ini terjadi ketika pelaku utama (fa'il) dihapuskan dari kalimat karena alasan tertentu, sehingga objek (maf'ul bih) diangkat menduduki posisi fa'il dan mengambil hukum-hukumnya, termasuk status dibaca rafa'.
Contoh: dari na'ibul fa'il dapat dilihat pada kalimat Quri'a al-kitฤbu (ููุฑูุฆู ุงูููุชูุงุจู) yang berarti "Buku itu telah dibaca". Kata al-kitฤbu mulanya adalah objek (maf'ul bih) yang dibaca nashab, namun karena kata kerjanya diubah menjadi bentuk pasif (fi'il majhul yaitu quri'a), maka kedudukannya berubah menjadi na'ibul fa'il dan wajib dibaca rafa' dengan tanda dhammah.
Selanjutnya, kategori ketiga dan keempat dibahas secara berpasangan, yaitu al-mubtada' dan al-khabar. Mubtada' adalah isim marfu' yang bebas dari faktor pemengaruh lafal (amil lafzhi) dan bertindak sebagai pokok pembicaraan. Sedangkan khabar adalah bagian yang menyempurnakan makna mubtada' sehingga terbentuk kalimat sempurna (jumlah mufidah).
Contoh sederhana gabungan mubtada' dan khabar adalah kalimat Al-Ustฤdzu hฤdirun (ุงูุฃูุณูุชูุงุฐู ุญูุงุถูุฑู) yang berarti "Ustadz itu hadir". Kata Al-Ustฤdzu berkedudukan sebagai mubtada' yang dibaca rafa' dengan dhammah, sedangkan kata hฤdirun berfungsi sebagai khabar yang juga dibaca rafa' untuk menyempurnakan informasi dari mubtada'.
Dalam kitab Mutammimah, pembahasan khabar dikembangkan lebih rinci menjadi khabar mufrad (bukan berupa kalimat) dan khabar ghairu mufrad (berupa kalimat jumlah atau shibhul jumlah). Syekh Al-Hattab menjelaskan pentingnya keterikatan (rabith) antara mubtada' dan khabar apabila khabar berbentuk jumlah, seperti penggunaan kata ganti (dhamir) yang sesuai.
Contoh untuk khabar berupa kalimat (jumlah) adalah Zaidun abลซhu qฤ'imun (ุฒูููุฏู ุฃูุจูููู ููุงุฆูู ู) yang berarti "Zaid, ayahnya berdiri". Kalimat abลซhu qฤ'imun bertindak sebagai khabar dari mubtada' pertama (Zaidun), di mana kata ganti hu pada abลซhu berfungsi sebagai rabith yang mengikat informasi kembali kepada Zaid.
Kategori kelima adalah isim kaana beserta saudara-saudaranya (Kaana wa akhawatuha). Kelompok kata ini merupakan bagian dari awamil an-nawasikh (faktor pembatal hukum asal mubtada-khabar). Ketika Kaana masuk ke dalam kalimat nominal (jumlah ismiyyah), ia bertugas merafa'kan mubtada' (yang kemudian dinamai isim kaana) dan menashabkan khabar.
Sebagai contoh, perhatikan kalimat Kฤna Allฤhu Ghafลซran (ููุงูู ุงูููู ุบููููุฑูุง) yang berarti "Allah Maha Pengampun". Kata Allฤhu di sini dibaca rafa' dengan tanda dhammah karena berkedudukan sebagai isim kaana, sedangkan kata Ghafลซran dibaca nashab karena berkedudukan sebagai khabar kaana.
Kategori keenam adalah khabar inna beserta saudara-saudaranya (Inna wa akhawatuha). Berbalikan dengan fungsi Kaana, partikel Inna berfungsi menashabkan mubtada' (sehingga disebut isim inna) dan merafa'kan khabar (sehingga disebut khabar inna). Pembahasan ini sangat vital karena sering dijumpai dalam teks Al-Qur'an.
Contoh penerapan fungsi Inna dapat dilihat pada kalimat Inna Allฤha Ghafลซrun (ุฅูููู ุงูููู ุบููููุฑู) yang artinya "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun". Kata Allฤha dibaca nashab sebagai isim inna, sedangkan kata Ghafลซrun dibaca rafa' dengan tanda dhammah karena berkedudukan sebagai khabar inna.
Kategori ketujuh sekaligus terakhir dalam kelompok Marfu'at al-Asma' adalah At-Tawabi' lil Marfu' (kata-kata yang mengikuti hukum rafa' dari kata sebelumnya). Dalam tata bahasa Arab, terdapat empat jenis tawabi': na'at (sifat), 'athaf (kata hubung), taukid (penegas), dan badal (kata pengganti). Jika kata yang diikuti (matbu') dibaca rafa', maka tawabi' tersebut otomatis dibaca rafa'.
Sebagai contoh na'at, dalam kalimat Jฤ'a ar-rajulu ash-shฤlihu (ุฌูุงุกู ุงูุฑููุฌููู ุงูุตููุงููุญู - "Pria saleh itu telah datang"), kata ash-shฤlihu dibaca rafa' karena menjadi sifat bagi ar-rajulu yang berkedudukan sebagai fa'il marfu'. Untuk contoh badal, perhatikan kalimat Jฤ'a al-ustฤdzu Zaidun (ุฌูุงุกู ุงูุฃูุณูุชูุงุฐู ุฒูููุฏู - "Ustadz Zaid telah datang"), kata Zaidun dibaca rafa' karena menjadi badal dari kata al-ustฤdzu.
Melalui penyusunan yang runtut dalam kitab Mutammimah Al-Ajurrumiyyah, para pembelajar dapat melihat gambaran utuh tentang bagaimana sebuah kata benda dalam bahasa Arab mendapatkan status rafa'. Keunggulan kitab Mutammimah terletak pada analisis syarat-syarat yang lebih detail serta pengenalan pengecualian-pengecualian kaidah secara sistematis.
Secara keseluruhan, memahami konsep Marfu'at al-Asma' bukan sekadar menghafal daftar kata yang dibaca dhammah, melainkan memahami fungsi sintaksis dan dinamika hubungan antar kata dalam kalimat. Penguasaan bab ini secara mendalam dalam kitab Mutammimah memberikan landasan yang sangat kuat bagi para santri dan akademisi sebelum melangkah ke kitab-kitab nahwu tingkat lanjut seperti Alfiyaah Ibnu Malik.