Oleh: Zainul Hakiki - Anggota Mahasantri

_______________________________

Permasalahan mengenai pilihan antara mondok atau kuliah sering kali dihadapi oleh pelajar yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Mereka dihadapkan pada pilihan yang tidak selalu mudah, terutama karena adanya berbagai faktor yang perlu dipertimbangkan, seperti kondisi ekonomi, jarak, lingkungan pendidikan, serta tujuan akademik dan keagamaan.

Namun, pernahkah kita berpikir bahwa menjalani keduanya secara bersamaan merupakan sebuah pilihan yang memungkinkan? Jika seseorang dapat memperoleh pendidikan pesantren sekaligus pendidikan perguruan tinggi, mengapa harus memilih salah satunya?

Saat ini, sudah banyak pesantren yang menyediakan fasilitas khusus bagi mahasiswa yang ingin menempuh pendidikan tinggi sekaligus mendalami ilmu-ilmu keislaman. Mereka dikenal dengan istilah mahasantri, yaitu mahasiswa yang juga menjalani kehidupan dan pendidikan di lingkungan pesantren.

Salah satu contohnya adalah Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata. Di sana tersedia fasilitas dan lingkungan yang memungkinkan mahasiswa untuk menjalani kehidupan sebagai santri sekaligus mahasiswa. Mereka dapat mengikuti berbagai kegiatan kepesantrenan sebagaimana santri pada umumnya, sementara di sisi lain tetap menjalankan aktivitas akademik di perguruan tinggi.

Model pendidikan seperti ini memberikan alternatif bagi pelajar yang tidak ingin memisahkan antara pendidikan agama dan pendidikan akademik. Selain itu, aspek ekonomi dan jarak juga dapat menjadi pertimbangan. Biaya pendidikan yang relatif terjangkau serta jarak antara pesantren dan kampus yang tidak terlalu jauh dapat membantu mahasiswa mengurangi beban biaya dan waktu perjalanan.

Kelebihan Mondok Sambil Kuliah

Menjalani pendidikan pesantren sekaligus kuliah memberikan kesempatan untuk memperoleh dua bentuk pengalaman pendidikan secara bersamaan. Di pesantren, seseorang dapat belajar, memahami, dan mendalami kitab-kitab kuning serta membangun tradisi keilmuan Islam. Sementara itu, di perguruan tinggi mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan akademik, seperti berpikir kritis, melakukan analisis, menyusun karya ilmiah, melakukan penelitian, dan berdiskusi secara sistematis.

Kedua tradisi keilmuan tersebut sebenarnya dapat saling melengkapi. Kajian kitab kuning dapat dikolaborasikan dengan literatur ilmiah modern. Tradisi musyawarah di pesantren dapat dipertemukan dengan tradisi diskusi akademik di perguruan tinggi. Penguasaan bahasa Arab dapat menjadi modal untuk mengakses literatur-literatur Islam klasik, sedangkan kemampuan akademik dapat membantu seseorang mengkaji dan mengembangkan pemikiran tersebut secara lebih sistematis.

Dengan demikian, mondok sambil kuliah bukan sekadar menjalani dua pendidikan dalam waktu yang bersamaan. Lebih dari itu, keduanya dapat menjadi proses untuk membentuk pribadi yang memiliki kedalaman pemahaman keagamaan sekaligus kemampuan intelektual.

Gagasan tersebut sejalan dengan ungkapan Nurcholish Madjid atau yang akrab dikenal sebagai Cak Nur, yaitu tentang pentingnya melahirkan sosok “santri intelektual, intelektual santri.” Gagasan ini dapat dipahami sebagai upaya mempertemukan tradisi keilmuan pesantren dengan tradisi intelektual modern.

Pada akhirnya, pertanyaan “mondok atau kuliah?” mungkin tidak selalu harus dijawab dengan memilih salah satu. Bagi mereka yang memiliki kesempatan dan kesiapan untuk menjalani keduanya, mondok sambil kuliah dapat menjadi pilihan untuk membangun keseimbangan antara kedalaman spiritual, penguasaan keilmuan Islam, dan kemampuan intelektual.

Sebab, pendidikan tidak semestinya hanya menghasilkan seseorang yang pintar secara akademik, tetapi juga pribadi yang memiliki nilai, karakter, dan kedalaman pemahaman keagamaan.